Renungan Uncategorized

Cinta, Iman & Amal

Cinta itu punya kekuatan yang tidak berbatas. Dia adalah kekuatan dan power sempurna yang ALLAH titiskan kedalam hati orang-orang yang beriman. Bila tajuknya adalah cinta kepada ALLAH, maka cinta yang kita maksudkan adalah cinta yang diletakkan didalam wadah yang bernama hati manusia biasa.

Kalau dzat cintanya sendiri adalah cinta yang kekuatannya tidak berbatas. Dia tidak punya daya yang akan mati. Namun karena ia diletakkan di sebuah wadah yang bernama hati manusia, yang kendaraannya dan alat-alat pergerakannya adalah tubuh & hati manusia, maka saat itulah cinta mulai berbilang. Naik dan turun. Kendor dan menguat, saat itu dia berbilang.

Orang-orang yang beriman memahami betul kodrat dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang datang dalam bentuk takdir yang jelas, bahwa manusia biasa adalah manusia yang lemah. dan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala sedang memilih manusia-manusia yang lemah ini menjadi hamba untuk dimuliakan.

Maka kesempurnaan dan kehebatan manusia adalah ketika dia berjuang untuk beribadah dalam kondisi dia sedang kelemahan. Itu keunikan manusia yang sebenarnya. Dan karena alasan itu dia lebih mulia dari malaikat, bila menjadi Khalifah yang sebenar-benarnya di muka bumi ini.

Untuk alasan ini, kata para ulama kita yang menafsirkan & memberikan definisi terhadap iman, maka mereka sebagian mengatakan,

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

Iman itu kadang naik dan kadang menurun,

يزيدُ بالطاعة وينقص بالمعصية

dia bertambah karena ketaatan dan dia berkurang karena kemaksiatan.

Suara yang dikeluarkan oleh iman itulah cinta tadi. Dan ingat, suara yang dipancarkan oleh iman selalu besar. Karena tidak pernah iman itu memancarkan suara cinta kecuali suara yang lantang. Namun kondisi hati kita yang dalam status lemahnya kita ini, inilah yang kadang dipermasalahkan. kekuatannya menangkap suara lantang dari iman, ini yang kadang melemah.

Kadang ketika dia dalam kondisi bersemangat, maka pantulan suara iman begitu kencang ditangkap. Maka respon yang baik yang menggerakkan semua alat-alat badan kita terlihat juga baik. Namun ketika penangkapan tadi menjadi lemah maka lemah juga respon yang dikirimkan untuk alat-alat peraga kita berupa anggota badan kita.

Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita tips yang baik untuk mensiasati kelemahan kita, agar tidak menjadi kebinasaan iman bagi kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling Allah Ta’ala cintai  adalah amalan yang sedikit namun dia berkesinambungan.”

  • Amalan yang sedikit berarti Nabi sedang berbicara dan berkomunikasi dengan kelemahan manusia yang kadang suka bosan bila dipaksa. Maka iman adalah bukan sebuah kata yang hendak kita tabrak dengan rasa optimisme kita yang tinggi dan kekuatan kita yang mengebu-gebu.

Ingat, Amalan yang ALLAH cintai adalah amalan yang sedikit namun ia berkesinambungan. Makanya bila anda ingin membangun cinta dari keimanan tadi dengan menggunakan kendaraan kemanusia-biasaan kita, maka tadi, ukur dia dengan kemampuan kemanusiaan kita, cicil dia dari hal yang sedikit, dan bila mampu menjaga konsistensi yang sedikit menjadi besar maka lanjutkan dia. Maka saat itu, Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang berkesinambungan meskipun dia sedikit.

  • Kemampuan kita yang sedikit ini, disana tetap ada suara cinta tadi, namun suaranya tidak terlalu lantang.

Kita berharap begitulah kondisi kita, badan kita capek, hati kita juga capek. Maka saat badan kita letih, maka hati kita juga letih oleh kerja-kerja yang luar biasa. Untuk itu seorang yang beriman, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً  

Setiap amalan itu ada masa-masa dimana anda begitu bersemangat dan berjibaku melakukannya dan melakoninya, namun masa-masa anda berada diatas puncak tadi akan diselingi dengan anda turun sejenak kebawah, anda molor sedikit, kendor sedikit,

Nabi memberikan tipsnya, “barangsiapa yang masa-masa molornya, kendornya berada diatas petunjukku, berada diatas petunjuk ALLAH dan Rasulnya, Sungguh dia telah mendapatkan petunjuk. Namun ketika dia keluar dari petunjuk nabi, maka sungguh ia telah binasa.

(HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

BILA ANDA TURUN SEDIKIT UNTUK MENGISYARATKAN FLUKTUASI DARI SIFAT KEIMANAN DAN CINTA KEPADA ALLAH MAKA TURUNLAH SEJENAK, NAMUN JAGA MASA-MASA TURUN ANDA SELALU DALAM DEKAPAN PETUNJUK-PETUNJUK ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.

Voice : Ustadz Akrama Hatta, Lc.

DOWNLOAD

Tentang Penulis

Radio Makkah

Tinggalkan Pesan